Home Artikel Kesehatan Gondongen berpotensi sebabkan ketulian.
Gondongen berpotensi sebabkan ketulian. PDF Print
Tuesday, 03 July 2012 10:23

Ada seorang pasien yang tiba-tiba mengalami ketulian mendadak. Satu minggu sebelumnya, mereka mengalami mumps (nama lain dari parotitis). Pasien sudah menjalani tes pendengaran (audiogram) untuk mengetahui berat ringannya gangguan pendengaran. Namun, kedua telinga terkena serangan gangguan pendengaran. Pendengaran tiba-tiba hilang atau sangat berkurang hingga 80 persen.

Fenomena tersebut hendaknya tidak dipandang remeh. Karena ketulian mendadak bisa disebabkan karena parotitis atau lebih dikenal dengan gondongen. Infeksi ini biasanya ditandai dengan pembengkakan pipi dekat telinga. Infeksi ini memang bisa sembuh dengan sendirinya, namun ada juga yang berlanjut ke peradangan, ke beberapa organ tubuh. Nah salah satunya adalah menyebabkan tuli mendadak tadi. 

Di surabaya saja, di bulan ini, tepatnya di RSUD dr Soetomo Surabaya, ada dua pasien yang dirujuk karena mengalami gangguan pendengaran. Kondisi tersebut dipastikan karena penyakit gondongen. "Satu pasien itu berusia tujuh tahun. Pasien lainnya sudah duduk di bangku kelas 1 SMP," ujar DR dr Nyillo Purnami, Sp.THT-KL, ketua Divisi THT-KL komunitas RSUD dr Soetomo/FK Unair.

Dr nyillo melanjutkan, ada beberapa cara untuk menghindari serangan virus gondongen. "Salah satunya adalah dengan vaksinasi MMR yang dimasukkan ke dalam imunisasi dasar."tegasnya. Sebab, rata-rata penderita parotitis adalah anak-anak dan balita. Jika pada usia tersebut sudah mengalami gangguan pendengaran, maka dipastikan kedepannya akan mempengaruhi masa depannya.

Lantas bagaimana mengantitipasi gondongen yang menyebabkan ketulian ? Dalam pernyataan yang ditulis dalam harian Jawa Pos edisi Selasa, 16 Juni, disebutkan tuli yang dialami pasien biasanya disertai dengan telinga mendenging, vertigo, bergoyang yang disertai dengan muntah. 

Makanan yang mengandung asam dan pedas juga harus dihindari. Kedua makanan itu akan merangsang kelenjar ludah sehingga menambah rasa nyeri. Sebaliknya, konsumsilah makanan yang lunak agar tidak sering mengunnyah. Sebab pasien sering mengeluh sulit menelan karena rasa nyeri di bagian kelenjar parotis tersebut. 

Nyillo menerangkan, selama masa penyembuhan, sebaiknya pasien diisolasi. Sebab penyebaran virus itu terjadi sangat cepat. Yakni melalui udara pernapasan saat batu, bersin ataupun meludah. Masa penularan terjadi melalui droplet infection (percikan ludah) sepanjang enam hari sebelum timbul bengkak dan sembilan hari setelah pembengkakan kelenjar. "Selama masa itu, pasien diharapkan untuk tidak sekolah atau kerja sebelum lewat masa penularan tersebut" tambah DR dr I Dewa Gede Ugrasena, Sp.A (K). Dalam beberapa hari , pipi yang akan membengkak akan kempis secara perlahan.

Dikutip seperlunya dalam harian Jawa Pos edisi, Selasa 16 Juni 2012.